Tentang

Tentang SMA Kristen Baithani Tutur

Pada tahun 1960, Ichwan Zacharia mencari sebuah tempat untuk peristirahatan di daerah Nongkojajar – Pasuruan, Jawa Timur. Melalui petunjuk penduduk di sana didapat sebidang tanah bekas rumah seorang Belanda yang tinggal pondasinya saja, kemudian dibangunnyalah sebuah bangunan di atas sebidang tanah tersebut. Setelah pembangunan rumah selesai, Ichwan Zacharia mengundang beberapa penduduk setempat untuk mengadakan persekutuan doa bersama dengan teman-teman sepelayanan yakni: Pdt. M.I Gamaliel dari GKI Malang dan Pdt.DR. Petrus Octavianus dari I-3 Batu – Malang. Dengan makin bertambahnya jumlah orang yang ikut berdoa/berbakti, dirasakan perlu didirikan sebuah tempat ibadah yang lebih besar. Dengan bantuan dari berbagai pihak, antara lain dari beberapa anggota jemaat GKI Malang, maka didirikanlah sebuah tempat ibadah permanen yang saat ini tempat ibadah tersebut dikenal sebagai Gereja Kristen Baithani “Kristus Gembala” Nongkojajar – Pasuruan.

Pada tahun 1961 Ichwan Zacharia mendirikan sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Nongkojajar – Pasuruan dengan tujuan untuk penginjilan. Dengan bantuan dari World Vision International (WVI) dan Institut Injili Indonesia (I-3), pelayanan mulai dikembangkan. Pengembangan tersebut dilakukan antara lain dengan membuka perintisan penginjilan di daerah Tosari Kabupaten Pasuruan yang dilakukan oleh seorang hamba Tuhan bernama Pdt. Yusak Oscar Sumilat.

Pada tahun 1962, atas prakarsa Pdt. Soedopo dan Rokid, Ichwan Zacharia mendirikan sebuah panti asuhan di Nongkojajar yang pada awalnya dipimpin oleh Rokid dan kemudian dilanjutkan oleh R. Soesetjo.

Pada tahun 1968 dalam suasana serba kekurangan didirikanlah sebuah SMP Kristen Baithani di daerah Tosari – Pasuruan yang menempati Balai Desa untuk kegiatannya selama 12 tahun. Pada awalnya, baik pelayanan di sekolah maupun pelayanan di gereja di bawah tanggung jawab dari YPPII – Batu, namun pada tanggal 15 Januari 1969, YPPII melepaskan semua pelayanannya di daerah Tengger sehingga dipandang perlu untuk mendirikan sebuah lembaga. Pada tahun 1971 sesuai Akte Notaris No. 44 tanggal 24 November 1971

didirikanlah sebuah yayasan dengan nama Yayasan Baithani dengan susunan pengurus waktu itu adalah:

Ketua : Ichwan Zacharia

Sekretaris : Yusak Oscar Sumilat

Bendahara : Yusak Imanuel

Yayasan ini kemudian mengembangkan pengelolaan sekolah dan panti asuhan yang pada waktu itu tidak hanya melakukan tugas pendidikan dan sosial, namun mempunyai tujuan pokok yaitu: untuk memberitakan berita keselamatan. Diluar jam-jam sekolah diadakan pula pembinaan iman Kristen oleh R. Soesetyo hingga suatu ketika terjadi mujizat Tuhan dengan luar biasa. Murid-murid SMP mendapat urapan Roh Kudus sehingga anak-anak tersebut tanpa ada yang menyuruh, mereka pergi ke desa-desa sambil membawa traktat dan mendoakan banyak orang sakit. Karena kuasa Roh Kudus, orang-orang yang percaya semakin bertambah banyak, sehingga munculah ilham kepada mereka untuk memiliki kehidupan berjemaat dengan gedung gereja yang memadai.

Pada waktu itu sebenarnya Majelis GKI Malang ikut aktif membantu pelayanan dalam persekutuan di Nongkojajar. Bahkan telah dipersiapkan bahwa persekutuan tersebut akan menjadi Pos PI GKI Malang. Namun rencana tersebut tidak terwujud dan pelayanan GKI Malang tidak dapat berlangsung terus. Karena itu tugas pelayanan tersebut dipercayakan kepada Institut Injili Indonesia (I-3). Karena keberadaan I-3 Batu – Malang bukan merupakan lembaga gereja, maka pada akhirnya pelayanan di Nongkojajar secara resmi diserahkan kepada Ichwan Zacharia untuk mengaturnya.

Proses untuk bergereja mengalami perputaran yang tidak selalu sesuai dengan rencana manusia. Kuasa Roh Tuhan telah memimpin para penatua dan membawa alam pikiran mereka menuju pada rencana-Nya yang agung dan mulia demi keselamatan jiwa-jiwa. Pada waktu itu ada usulan dari seorang hamba Tuhan yang menyarankan agar jika ingin bergereja, sebaiknya mendirikan lembaga gereja sendiri saja dan nama Gereja Kristen Perjanjian Baru menjadi sebuah pilihan. Hal tersebut nampaknya mendapat dukungan dari para anggota jemaat setempat karena sebagian besar setuju dengan nama tersebut, namun ternyata Tuhan tidak menetapkan nama gereja tersebut untuk dipakai sebagai nama lembaga gereja ini. Sempat juga tercetus dari beberapa anggota persekutuan yang mengusulkan agar lembaga gereja ini diberi nama Gereja Kristen Tengger dimana hal ini berhubungan dengan visi pelayanan tersebut yang ditujukan khususnya untuk suku Tengger. Usulan tersebut ternyata juga tidak berumur panjang, mengingat lembaga gereja ini nantinya belum tentu hanya akan berada di kawasan Tengger saja dan nama Gereja Kristen Tengger akhirnya juga diganti.

Pada akhirnya, Tuhan juga yang menentukannya, melalui Ichwan Zacharia ditetapkanlah bahwa nama lembaga gereja ini adalah GEREJA KRISTEN BAITHANI. Kata BAITHANI didapat pada waktu ia berdoa sendiri di kamar tidurnya. Tuhan mengingatkan kepadanya akan suatu kota yang menjadi tempat persinggahan Tuhan Yesus, yaitu Baithani atau Betania. Mengacu pada proses lahirnya nama Gereja Kristen Baithani ini, dapat kita simpulkan bahwa nama Gereja Kristen Baithani bukanlah nama yang sekedar muncul tanpa makna, namun lahir dari pergumulan doa Ichwan Zacharia sebagai pendiri lembaga gereja ini. Dan dari pergumulan doa ini, Ichwan Zacharia mendapat visi dari Tuhan agar memberi nama Gereja Kristen Baithani bagi lembaga gereja ini.

Pada tanggal 7 Desember 1973, setelah melalui pergumulan yang panjang, keberadaan Gereja Kristen Baithani diresmikan ke Notaris untuk pembuatan Akta Notaris dengan nama GEREJA-GEREJA KRISTEN BAITHANI (GGKB). Nama Gereja-Gereja Kristen Baithani dimaksudkan untuk menyatakan bahwa lembaga gereja ini sebagai wadah untuk persekutuan berbagai jemaat (lokal) Gereja Kristen Baithani yang bersifat otonom.

Sumber Asli : http://gerejakristenbaithani.org/who-we-are/

SMA Kristen Baithani Tutur
Jl. Raya Putuk Nongkojajar,
Desa Wonosari, Kec. Tutur.
Kabupaten Pasuruan
Jawa Timur

Telp : 0343-499319
email : baithaninjj@yahoo.com

SMA Kristen Baithani Tutur, adalah sekolah yang mempunyai visi mendidik manusia secara utuh.

Dan mempunyai tujuan agar setiap siswa dapat mengaplikasikan soft skills/kecakapan hidup

Lokasi Sekolah